Rasio Keuangan Cost of Capital (WACC): Biaya Modal Rata-rata Tertimbang

Rasio Keuangan Cost of Capital (WACC): Biaya Modal Rata-rata Tertimbang
Photo by Robert Stump / Unsplash

Weighted Average Cost of capital (WACC) merupakan biaya modal rata-rata tertimbang yang digunakan perusahaan untuk mengevaluasi proyek-proyek investasinya.

WACC digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain:

  • Menghitung nilai perusahaan
  • Mengevaluasi kelayakan investasi
  • Menilai kinerja manajemen

Rumus WACC

Rumus WACC adalah sebagai berikut:

WACC = Wd ´ R d ´ (1 - Tax rate ) + Wps ´ R ps + Wcs ´ R cs

Keterangan:

  • WACC = Cost of capital rata-rata tertimbang
  • Wd = Proporsi utang dari modal
  • Rd = Biaya utang
  • Tax rate = Tarif pajak
  • Wps = Proporsi saham preferen dari modal
  • Rps = Biaya saham preferen
  • Wcs = Proporsi saham biasa dari modal
  • Rcs = Biaya saham biasa

Interpretasi WACC

Nilai WACC yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki biaya modal yang lebih tinggi. Hal ini berarti perusahaan harus menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi dari proyek investasinya agar proyek tersebut layak untuk dijalankan.

Contoh Kasus

Berikut adalah contoh kasus perhitungan WACC:

Sebuah perusahaan memiliki struktur modal sebagai berikut:

  • Utang: Rp 100 miliar
  • Saham preferen: Rp 25 miliar
  • Saham biasa: Rp 75 miliar

Biaya utang perusahaan adalah 10%, biaya saham preferen adalah 12%, dan biaya saham biasa adalah 15%. Tarif pajak perusahaan adalah 25%.

Perhitungan WACC adalah sebagai berikut:

WACC = Wd ´ R d ´ (1 - Tax rate ) + Wps ´ R ps + Wcs ´ R cs
= Rp 100 miliar ´ 10% ´ (1 - 25%) + Rp 25 miliar ´ 12% + Rp 75 miliar ´ 15%
= 6,5% + 3% + 11,25%
= 20,75%

Berdasarkan perhitungan tersebut, WACC perusahaan adalah 20,75%. Hal ini berarti perusahaan harus menghasilkan pengembalian minimal 20,75% dari proyek investasinya agar proyek tersebut layak untuk dijalankan.

Kesimpulan

Cost of capital (WACC) merupakan salah satu rasio keuangan yang penting bagi perusahaan. WACC digunakan untuk mengevaluasi proyek-proyek investasi perusahaan dan menentukan apakah proyek tersebut layak untuk dijalankan.

Penjelasan tambahan

Dalam contoh kasus di atas, biaya utang dihitung setelah pajak karena perusahaan di Indonesia memiliki tarif pajak yang progresif. Tarif pajak progresif berarti bahwa semakin tinggi laba yang diperoleh perusahaan, maka semakin tinggi pula tarif pajak yang dikenakan. Oleh karena itu, biaya utang dihitung setelah pajak agar WACC yang dihasilkan lebih akurat.

Biaya saham preferen dan biaya saham biasa dihitung sebelum pajak karena dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham preferen dan saham biasa tidak dapat dikurangkan dari pajak.