Kenapa Bank Pakai Structured Finance Buat Jaga Risiko dan NPL?

Pernah dengar istilah "structured finance"? Buat kamu yang belum familiar, istilah ini merujuk pada sebuah strategi keuangan yang digunakan bank untuk mengelola risiko kredit. Nah, di blog kali ini, kita bakal bahas lebih dalam tentang structured finance dan bagaimana strategi ini membantu bank menjaga tingkat Non-Performing Loan (NPL) tetap rendah.

Apa sih Structured Finance Itu?

Secara sederhana, structured finance adalah strategi yang membagi pinjaman bank menjadi beberapa bagian dengan tingkat risiko berbeda. Bagian-bagian ini kemudian dijual kepada investor sebagai sekuritas.

Kenapa Bank Pakai Structured Finance?

Ada beberapa alasan kenapa bank menggunakan structured finance, di antaranya:

  • Mitigasi Risiko: Structured finance membantu bank menyebarkan risiko kredit ke berbagai investor. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas keuangan bank dan meminimalisir kerugian jika terjadi gagal bayar.
  • Meningkatkan Modal: Dengan menjual sekuritas dari pinjaman, bank dapat meningkatkan modalnya dan menyalurkan dana tersebut ke pinjaman baru.
  • Meningkatkan Likuiditas: Structured finance memungkinkan bank untuk mengubah aset illiquid (seperti pinjaman) menjadi aset likuid (seperti sekuritas) yang dapat dijual dengan mudah.

Structured Finance dan NPL

Salah satu manfaat utama structured finance adalah membantu bank menjaga tingkat NPL tetap rendah. NPL adalah kredit yang macet atau tidak dibayarkan oleh nasabah.

Dengan membagi pinjaman menjadi beberapa bagian dengan tingkat risiko berbeda, bank dapat menjual bagian-bagian dengan risiko tinggi kepada investor yang mau menerima tingkat imbal hasil lebih tinggi. Hal ini memungkinkan bank untuk fokus pada pinjaman dengan risiko rendah dan meningkatkan kualitas portofolio kreditnya.

Contoh Penerapan Structured Finance

Salah satu contoh penerapan structured finance adalah sekuritisasi hipotek. Dalam sekuritisasi hipotek, bank menggabungkan beberapa pinjaman hipotek menjadi satu kumpulan dan kemudian menjual kumpulan tersebut kepada investor sebagai sekuritas.

Contoh Kasus Structured Finance dengan Perhitungan

Misalkan Bank A memiliki portofolio pinjaman senilai Rp 100 miliar dengan tingkat risiko rata-rata 5%. Bank A ingin mengurangi risiko kreditnya dan meningkatkan modalnya.

Bank A memutuskan untuk menggunakan structured finance dan membagi portofolio pinjamannya menjadi dua bagian:

  • Tranche A: Pinjaman dengan risiko rendah senilai Rp 80 miliar dengan tingkat bunga 4%.
  • Tranche B: Pinjaman dengan risiko tinggi senilai Rp 20 miliar dengan tingkat bunga 8%.

Bank A kemudian menjual Tranche A kepada investor sebagai sekuritas dengan nilai nominal Rp 80 miliar. Investor akan menerima bunga 4% per tahun dari pinjaman di Tranche A.

Bank A menyimpan Tranche B dan akan menanggung semua risiko kredit dari pinjaman di tranche ini.

Perhitungan:

  • Modal yang diperoleh Bank A: Rp 80 miliar
  • Risiko kredit yang ditanggung Bank A: 20% (dari Tranche B)
  • Tingkat NPL rata-rata: 2% (asumsi)

Pengaruh Structured Finance terhadap NPL:

  • Sebelum Structured Finance: NPL = 5% x Rp 100 miliar = Rp 5 miliar
  • Setelah Structured Finance:
    • NPL Tranche A = 0% (karena risiko rendah)
    • NPL Tranche B = 2% x Rp 20 miliar = Rp 400 juta
    • NPL total = Rp 400 juta / Rp 100 miliar = 0,4%

Kesimpulan:

Dengan menggunakan structured finance, Bank A dapat:

  • Meningkatkan modalnya sebesar Rp 80 miliar
  • Menurunkan tingkat NPL dari 5% menjadi 0,4%
  • Meringankan risiko kredit dengan memindahkannya ke investor

Structured finance adalah alat yang efektif bagi bank untuk mengelola risiko kredit dan meningkatkan stabilitas keuangannya.

Catatan:

  • Perhitungan di atas adalah contoh sederhana dan tidak memperhitungkan semua faktor yang dapat mempengaruhi NPL.

Penggunaan Structured Finance di Indonesia

Structured finance telah digunakan oleh bank-bank di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana bank-bank di Indonesia menggunakan structured finance:

  • Sekuritisasi Kredit Kendaraan Bermotor: Bank Mandiri menerbitkan sekuritisasi kredit kendaraan bermotor senilai Rp 1 triliun pada tahun 2022.
  • Sekuritisasi Kredit Konsumer: Bank BCA menerbitkan sekuritisasi kredit konsumer senilai Rp 500 miliar pada tahun 2021.
  • Sekuritisasi Kredit Pemilikan Rumah: Bank BTN menerbitkan sekuritisasi kredit pemilikan rumah senilai Rp 300 miliar pada tahun 2020.

Penggunaan structured finance di Indonesia masih tergolong kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Namun, penggunaan structured finance di Indonesia diprediksi akan terus meningkat di masa depan.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa penggunaan structured finance di Indonesia diprediksi akan terus meningkat:

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia: Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil akan mendorong permintaan kredit dari masyarakat.
  • Perkembangan pasar modal Indonesia: Perkembangan pasar modal Indonesia akan memberikan akses yang lebih mudah bagi bank untuk menjual sekuritas structured finance kepada investor.
  • Kebijakan pemerintah: Pemerintah Indonesia mendukung penggunaan structured finance untuk meningkatkan efisiensi intermediasi keuangan.

Penggunaan structured finance dapat memberikan manfaat bagi bank dan investor di Indonesia. Bagi bank, structured finance dapat membantu mengelola risiko kredit, meningkatkan modal, dan meningkatkan likuiditas. Bagi investor, structured finance dapat memberikan alternatif investasi dengan tingkat imbal hasil yang menarik.

Tantangan Penggunaan Structured Finance di Indonesia

Meskipun penggunaan structured finance di Indonesia memiliki banyak manfaat, terdapat beberapa tantangan yang perlu di addressed, antara lain:

  • Kurangnya edukasi: Kurangnya edukasi tentang structured finance di kalangan investor dan bank.
  • Kerumitan struktur: Struktur structured finance yang kompleks dapat menyulitkan investor untuk memahami risikonya.
  • Regulasi: Regulasi yang belum lengkap tentang structured finance.

Meskipun terdapat beberapa tantangan, penggunaan structured finance di Indonesia diprediksi akan terus meningkat di masa depan. Manfaat structured finance bagi bank dan investor di Indonesia diyakini akan lebih besar daripada tantangannya.

Structured Finance dan Krisis Subprime Mortgage di Amerika

Structured finance memang memiliki banyak manfaat bagi bank dan investor. Namun, structured finance juga dapat menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik. Contoh kasus yang paling terkenal adalah krisis subprime mortgage di Amerika Serikat pada tahun 2008.

Apa itu Krisis Subprime Mortgage?

Krisis subprime mortgage adalah krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008. Krisis ini dipicu oleh jatuhnya pasar perumahan di Amerika Serikat.

Pada tahun-tahun sebelum krisis, bank-bank di Amerika Serikat memberikan pinjaman perumahan kepada orang-orang dengan profil kredit yang buruk. Pinjaman ini disebut sebagai "subprime mortgage".

Bank-bank kemudian mengemas subprime mortgage menjadi sekuritas dan menjualnya kepada investor. Investor tertarik dengan sekuritas ini karena menawarkan tingkat imbal hasil yang tinggi.

Apa yang Salah?

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan krisis subprime mortgage, antara lain:

  • Standar kredit yang longgar: Bank-bank memberikan pinjaman kepada orang-orang yang tidak mampu membayarnya.
  • Tingkat suku bunga yang rendah: Tingkat suku bunga yang rendah mendorong orang-orang untuk membeli rumah yang tidak mampu mereka beli.
  • Kompleksitas struktur structured finance: Investor tidak memahami risiko dari sekuritas subprime mortgage.

Akibat Krisis

Krisis subprime mortgage memiliki dampak yang besar pada ekonomi global. Jutaan orang di Amerika Serikat kehilangan rumah mereka. Bank-bank mengalami kerugian besar dan beberapa bank bahkan bangkrut.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Krisis subprime mortgage adalah contoh bagaimana structured finance dapat menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik. Berikut adalah beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari krisis ini:

  • Pentingnya due diligence: Investor harus melakukan due diligence sebelum membeli sekuritas structured finance.
  • Pentingnya regulasi: Pemerintah perlu menerapkan regulasi yang tepat untuk mencegah terjadinya krisis serupa di masa depan.

Contoh Lain Structured Finance Bermasalah

Selain krisis subprime mortgage, terdapat beberapa contoh lain structured finance yang bermasalah, antara lain:

  • Krisis keuangan global 2008: Krisis keuangan global 2008 dipicu oleh jatuhnya pasar kredit perumahan di Amerika Serikat.
  • Skandal Enron: Skandal Enron adalah kasus penipuan akuntansi yang melibatkan perusahaan energi Enron. Enron menggunakan structured finance untuk menyembunyikan hutangnya.

Opsi Lain Bank untuk Mengelola Risiko Pinjaman Pihak Ketiga: Cessie dan Asuransi

Selain structured finance, bank memiliki beberapa opsi lain untuk mengelola risiko pinjaman pihak ketiga, yaitu:

1. Cessie (Pengalihan Hak Tagih)

Cessie adalah pengalihan hak tagih dari kreditur (bank) kepada pihak ketiga (cessie). Cessie dapat dilakukan dengan dua cara:

  • Cessie penuh: Hak tagih seluruh pinjaman dialihkan kepada pihak ketiga.
  • Cessie sebagian: Hanya sebagian hak tagih pinjaman yang dialihkan kepada pihak ketiga.

Manfaat Cessie:

  • Mitigasi risiko: Bank dapat memindahkan risiko kredit kepada pihak ketiga.
  • Meningkatkan modal: Bank dapat memperoleh dana dari penjualan hak tagih pinjaman.
  • Meningkatkan likuiditas: Bank dapat mengubah aset illiquid (pinjaman) menjadi aset likuid (dana).

Risiko Cessie:

  • Kehilangan kontrol: Bank kehilangan kontrol atas penagihan pinjaman.
  • Reputasi: Bank dapat terkena reputasi buruk jika pihak ketiga gagal menagih pinjaman.

2. Asuransi Kredit

Asuransi kredit adalah polis asuransi yang melindungi bank dari risiko gagal bayar pinjaman.

Manfaat Asuransi Kredit:

  • Mitigasi risiko: Bank dapat mengalihkan risiko gagal bayar kepada perusahaan asuransi.
  • Meningkatkan modal: Bank dapat meningkatkan modalnya karena pinjaman yang diasuransikan dianggap memiliki risiko lebih rendah.
  • Meningkatkan likuiditas: Bank dapat meningkatkan likuiditasnya karena pinjaman yang diasuransikan dapat dijadikan agunan untuk mendapatkan pinjaman dari bank lain.

Risiko Asuransi Kredit:

  • Biaya: Bank harus membayar premi asuransi.
  • Proses klaim: Proses klaim asuransi bisa memakan waktu dan rumit.

Penutup

Structured finance adalah strategi yang penting bagi bank untuk mengelola risiko kredit dan menjaga tingkat NPL tetap rendah. Dengan menyebarkan risiko ke berbagai investor, bank dapat meningkatkan stabilitas keuangannya dan menyalurkan dana ke lebih banyak nasabah.

Silahkan tuliskan komentar kamu di bawah ini apabila ada pertanyaan mengenai ilmu structured finance